Kamis, 05 Juli 2012

Berani Sukses, Berani Banting Stir...



Cerita bermula pada tahun 2003, tepat satu tahun setelah ia lulus dari sekolah setingkat SMA di Selandia Baru. Saat itu, Rahmat telah diterima di salah satu perguruan tinggi di negara tersebut.

Di sela-sela masa peralihan dari SMA ke bangku kuliah itulah ia mendapatkan informasi mengenai kesempatan untuk melanjutkan studi (kuliah) di Jepang melalui salah satu program beasiswa yang diberikan oleh APU. Perburuan pun dimulai, serangkaian proses ia penuhi satu persatu. Baik secara administrasi sampai kepada tes akademik.


Tak selang berapa lama, gayung bersambut, kabar baik pun datang. Ia dinyatakan lulus seleksi beasiswa dan berhak melanjutkan studinya di program studi International Marketing jurusan Asia Pacific Management, APU.

“Pada saat itu saya berpikir lebih baik mengalami sesuatu yang baru walaupun Jepang adalah negara yang lebih “asing” buat saya,” kata Rahmat, Senin (3/7/2012).

Waktu pun berlalu dan ia berhasil menyelesaikan studinya pada 2007. Tak lama setelah lulus, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang otomotif, Toyota Tsusho di Singapura. Sekitar empat tahun ia menjalani perannya di perusahaan tersebut dengan baik. Atas prestasinya, dalam satu tahun ini ia ditugaskan ke Kamboja sebagai Executive & Advisor for Toyota Kamboja.

“Saya bersyukur dengan kesempatan yang saya terima sekarang ini. Saya kira selain dari pencapaian akademik, faktor yang penting dalam mencapai sukses adalah budaya kerja kita. Rasa keseriusan dan tanggung jawab dalam bekerja banyak saya pelajari dari pengalaman sewaktu kuliah di Jepang,” ungkapnya.

Laiknya sebuah perjuangan, kesuksesan Rahmat tentu tidak diperoleh dengan mudah. Banyak hal dalam dirinya yang ia pacu dengan keras. Selain akademik, tentunya adalah kemampuan menguasai bahasa Jepang.

Sudah bukan rahasia lagi, bahasa dan huruf Jepang merupakan salah satu hal yang sulit dikuasai. Demikian pula yang dialami Rahmat. Keterbatasannya berinteraksi menggunakan bahasa Jepang selalu menghantui  saat memulai kehidupan barunya di Negeri Sakura tersebut.

Beruntung ia kuliah di APU. Di sini, para mahasiswa yang belum menguasai bahasa Jepang diberi keluasaan untuk memilih kelas dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

“Faktor bahasa memang menjadi kendala, tapi semua pasti bisa diatasi. Menetap di  Jepang merupakan sebuah pengalaman yang berharga. Bukan hanya dalam segi pendidikan, tapi juga dalam aspek budaya kerja, dan itulah ilmu yang banyak membantu saya di dunia kerja,” ujar Rahmat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PERLU UNTUK DI BUKA