Selasa, 31 Juli 2012

Mallika, "Si Hitam Manis" dari UGM


Setyastuti dan varietas kedelai hitam asli Indonesia, Mallika. (Foto: dok. UGM)
Setyastuti dan varietas kedelai hitam asli Indonesia, Mallika. (Foto: dok. UGM)
JAKARTA - Awalnya, tiada yang tahu harus menyebut kedelai hitam varietas asli Indonesia ini dengan nama apa. Karakteristik genetik unggul yang dibawanya pun mengantar sang kedelai dengan sebutan Mallika, yang dalam bahasa Sansekerta berarti kerajaan.

Pemberian nama ini tidak main-main, mengingat perjalanan panjang Mallika sebagai varietas unggul pertanian Indonesia. Adalah Ir. Setyastuti Purwanti, M.S.,  wanita di balik kemasyhuran Mallika. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mampu melejitkan Mallika sehingga bisa ditanam oleh 7.000 petani yang tersebar di beberapa kabupaten di DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.


Penemuan hebat ini bermula dari penanaman 40 kilogram benih kedelai hitam yang didapatkan Setyastuti dari koleganya. Namun sayang, hasil panen pertama dari benih tak bernama itu tidak maksimal. Melihat hasil panen yang kurang berkualitas, pada 2002, Setyastuti mencoba menanam Mallika di kawasan Puncak, Bogor. Percobaan ini menghasilkan 940 kg Mallika dalam panen pertamanya.

Usaha Setyastuti untuk menebarkan kebaikan Mallika disambut baik Yayasan Unilever. Mereka meminta produksi Mallika diperbanyak untuk bahan baku kecap produksi perusahaan mereka. Permintaan ini tidak langsung disanggupi dosen Permuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian UGM tersebut mengingat belum adanya uji varietas terhadap Mallika. Ketika akhirnya menyanggupi permintaan Unilever, Setyastuti mengajukan satu syarat, semua hasil panen harus dibeli Unilever dengan harga Rp3.500 per kilogram. Hal ini semata-mata untuk menghargai jerih payah para petani.

Bermodalkan Mallika yang kurang dari satu ton itu, Setyastuti pun mulai mencari petani yang bisa diajak kerjasama. Ternyata, perjalanan Setyastuti tidak mulus. Walaupun, sudah ditemani tiga mahasiswanya, Setyastuti mengaku masih saja kesulitan mendapati petani yang bisa diajak bekerjasama untuk menanam kedelai Malika ini.

"Dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam saya mencari petani, tetapi yang didapati hanyalah ketidakpastian," kata Setyastuti, seperti dinukil dari situs UGM, Senin, (30/7/2012).

Dengan semangat juang yang tinggi, Setyastuti akhirnya mampu merangkul ratusan petani yang bisa dia ajak kerjasama. Petani tersebut berasal dari wilayah Imogiri dan Bambanglipuro, Bantul. Para petani ini kemudian menanam benih Mallika yang kurang dari 1 ton tersebut ke area seluas 8 ha untuk wilayah Bambanglipuro, Bantul dan 25 ha untuk wilayah Sumbermulyo, Klaten.

Tidak hanya itu, Setyastuti juga mengadakan pembinaan terkait dengan penanaman Mallika yang baik dan benar. Usaha ini lakukan Setyastuti demi mendapatkan hasil panen Mallika yang berkualitas. Usaha Setyastuti pun tidak sia-sia. Dia berhasil memanen 20 ton Mallika pada pertengahan 2003.

Harga beli yang di atas pasaran menjadi faktor penentu keberhasilan Setyastuti merangkul para petani. Tetapi, di sisi lain, keberhasilan para petani juga mengundang minat para tengkulak untuk membeli hasil panen tersebut. Bahkan, mereka berani membeli dengan cara ijon.

Tidak tinggal diam, Setyastuti pun mengajukan syarat kepada para tengkulak; jika berminat membeli Mallika, maka mereka harus membelinya dengan harga yang lebih tinggi dari Unilever. "Akhirnya si tengkulang mengurungkan niatnya," ujar wanita berkerudung ini. 

Setelah sukses pada panen pertama, Setyastuti mulai bergerilya lagi untuk merangkul petani lain. Ngawi, Madiun, dan Probolinggo adalah target area selanjutnya. Jika, awalnya hanya bisa memanen 1 ton per hektare. Kini, para petani sudah bisa memanen 2,7 hingga 2,9 ton per hektare.

Usaha Setyastuti merangkul petani ini ternyata bukanlah bagian dari proyek penelitiannya. Melainkan, niat tulusnya yang benar-benar ingin membantu petani Indonesia. Dia berharap, fenomena ini tidak hanya untuk kehidupan petani hari ini, tetapi juga untuk kehidupan petani yang akan datang. Harapan tersebut, secara perlahan disalurkannya lewat pengembangan diri untuk petani. Pertemuan pengarahan bertanam pun dilakukan Setyastuti secara rutin bersama para mahasiswanya.

Pada Februari 2007, Mallika hasil dari tangan kreatif Setyastuti resmi dilepas sebagai varietas unggulan nasional. Indonesia kini memiliki tiga varietas kedelai hitam yakni Marapi (1938), Cikurai (1992), dan Mallika (2007).(rfa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PERLU UNTUK DI BUKA