Jumat, 15 Juni 2012

Anak Sering Ngamuk, Ini Dia Pendekatan yang Tepat (2)

Perasaan yang tidak terekspresikan dan tidak ditanggapi dengan empati bersamaan perjalanan waktu akan tersimpan dalam tubuh dalam bentuk ketegangan. Ketegangan melindungi anak dari luka di hati, tapi sekaligus juga mencegah kemampuannya untuk merasakan cinta dan kegembiraan.
Ketika anak menahan perasaannya, ia akan membutuhkan dukungan lain selain empati. Yakni, bantuan mengekspresikan perasaan itu. Membantu anak menangis atau mengeluarkan amarahnya memungkinkan tubuhnya melepas ketegangan otot dan stres. Mekanisme pelepasan stres secara alamiah ini diteliti dan diungkap Aletha Solter PhD dalam tiga bukunya: The Aware Baby, Tears and Tantrums, dan Helping Young Children Flourish.
Ketika kita dekat dengan anak yang melindungi dirinya dari perasaannya, kata Rose, kedekatan itu menghubungkan anak dengan rasa sakit hatinya. Ia mengutip saran psikolog John Breeding. Berusahalah menjalin kedekatan. Ini khususnya penting bagi anak laki-laki (yang) tak mau didekati dan mengasingkan diri dalam tekanan yang mereka hadapi. Biarkan mereka menunjukkan rasa terluka mereka. Tapi, jangan pernah percaya bahwa mereka tak ingin kedekatan. Mereka ingin, sangat ingin! Teruslah berusaha.
Karena itu, saran Rose, bila kita mendekati anak dan hanya mendengar penolakannya, itu hanya menunjukkan satu arti, kebutuhan untuk kedekatan dengan ayah bunda dan penyembuhan luka hatinya mungkin belum nyambung.
Sejumlah masalah sebenarnya bisa terdeteksi dari perilaku anak. Rose menyebut, di antaranya anak lengket yang berlebihan kepada ayah atau ibunya, merengek, agresif, atau menolak didekati. Gejala itu menunjukkan kebutuhan anak untuk melepaskan emosi. Alih-alih langsung menyelesaikan masalahnya, Rose menyarankan ayah bunda membiarkan anak mengungkapkan perasaannya dengan cara aman yang bisa diterima. 
 Mengantisipasi Luapan Emosi
Bilakah saatnya anak ingin menangis atau marah? Anak perlu melepaskan perasaan tertekan dan terlukanya setelah: 
Hari yang meletihkan atau merangsang emosinya.
Konflik dengan anak lain atau anggota keluarga.
Perceraian orang tuanya.
Pernikahan kembali orang tuanya.
Pindah ke rumah atau sekolah baru.
Kelahiran adik, dan melihat peristiwa menakutkan di TV atau dalam kehidupan nyata.
Semakin kecil anak, semakin banyak rangsangan itu memengaruhinya, semakin besar pula kebutuhannya mengungkap perasaannya melalui tangis, amarah, atau tawa. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PERLU UNTUK DI BUKA