Jumat, 19 Juli 2013

Metode Pembelajaran Inquiry Training

1. Pengertian Metode Pembelajaran Inquiriy Training
Pengertian Metode Pembelajaran Inquiry Training adalah suatu
kerjasama antara guru dengan peserta didik (Suckman,2008:67).
Penyajian materi disampaikan dengan ceramah atau tertulis. Siswa dalam
suatu kelas tertentu dibagi menjadi kelompok-kelompok. Masing-masing
kelompok dengan anggota 5-6

orang setiap kelompok diupayakan heterogen dari segi jenis kelamin dan
kemampuan akademiknya.
2. Tujuan Penggunaan Metode Pembelajaran Inquiry Training
Menurut Suckman (2008:67) Tujuan penggunaan Metode pembelajaran
Inquiry Training dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa
dalam proses pemebelajaran menulis puisi, mampu menulis sebuah puisi
dengan baik dan benar serta menggunakan kaidah bahasa yang benar.
Metode pembelajaran adalah cara dalam menyajikan (menguraikan, memberi
contoh dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai
tujuan tertentu (Suparman, 1997:166). Guru harus memilih metode yang
sesuai untuk setiap kompetensi yang ingin dicapai, karena tidak setiap
metode pembelajaran sesuai untuk digunakan dalam mencapai setiap
kompetensi atau tujuan pembelajaran tertentu. Lebih lanjut Suparman
(1997: 167-176) menjelaskan, ada beberapa metode yang biasa digunakan
guru dalam kegiatan pembelajaran. Berikut ini hanya akan diambil
beberapa metode yang dianggap cocok dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD. Namun demikian ada beberapa metode di bawah,seperti
deduktif atau ekspositori, Inquiry Training, dan induktif yangmenurut
Roy Killen seperti diuraikan sebelumnya merupakan strategi
pembelajaran.
Metode pembelajaran Inquiry Training merupakan salah satu Metode
pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya
memperlajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari
keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif.
Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja
dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan
komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan
dengan membagi tugas antar kelompok selama kegiatan. Lingkungan
belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi
dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan
bagaimana mempelajarinya. Guru merupakan suatu struktur tingkat tinggi
dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namum
siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di
dalam kelompoknya. Jika pelajaran pembelajaran kooperatif ingin
menjadi sukses, materi pelajaran yang lengkap harus tersedia di
ruangan guru atau di perpustakaan atau dipusat media. Keberhasilan
juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan tradisional, yaitu
secara ketat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
3. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan menggunakan Metode
pembelajaran Inquiry Training
Secara prosedural, pembelajaran Inquiry Training dapat diuraikan
dalam beberapa tahap sebagai berikut:
Tahap I : Pendahuluan, menetapkan, dan mejelaskan tujuan pembelajaran.
a. Menjelaskan kepada siswa proses kooperatif yang akan digunakan,
tujuan pembelajaran, dan megkaitkannya dengan pengetahuan awal siswa.
b. Menetapkan tingkah laku dan interaksi siswa yang diharapkan.
Tahap II : Penyajian informasi (garis besar materi pelajaran)
a. Menyajikan informasi/konsep kunci secara verbal atau dalam bentuk
hand outatau menggunakan bentuk bahan ajar lainnya. Bisa digunakan
informasi yang banyak dari buku teks, selain itu bisa digunakan LKS
untuk membantu memilih dan mencatat informasi yang terdapat dalam buku
teks tersebut.
Tahap III : Mengatur siswa kedalam kelompok belajar
a. Mengatur kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-6 orang siswa dan
menyeimbangkan perbedaan. Perbedaan antar siswa. Dalam hal ini, harus
disusun variasinya yang berkaitan dengan tingkat intelektualnya, jenis
kelamin dan etnis. Setiap kelompok terdiri atas siswa yang memiliki
inteletual tinggi, sedang, dan rendah.
b. Mengatur peran serta anggota kelompok dalam kelompoknya.
Tahap IV : Membantu siswa bekerja dan belajar dalam kelompok.
a. Mengamati peran dan partipasi masing-masing individu dalam kerja kelompok.
b. Membantu siswa yang mengalami kesulitan bekerja secara kelompok.
Tahap V : Memberikan tes/kuis tentang materi pelajaran.
a. Tes/kuis diberikan secara individu dan tidak diperkenankan untuk
saling bekerja sama. Penilaian dilakukan oleh fasilitator dan skor
peningkatan kelompok didasarkan atas skor individu.
Tahap VI : Memberikan penghargaan kepada kelompok.
a. Penghargaan untuk kelompok dapat berupa tanda mata, status
(misalnya: kelompok terbaik), sanjungan, dan sebagainya.
b. Keseluruhan proses pembelajaran dengan teknik Inquiry Training
terdiri atas 2 sampai 4 kali pertemuan.
Metode ini dikembangkan oleh Suckman, mengajarkan kepada siswa suatu
proses untuk mengkaji dan menjelaskan suatu fenomena yang tidak umum.
Dengan Metodenya, Suchkman mengajak siswa menjelajahi suatu versi mini
suatu prosedur yang (biasa) digunakan para ahli untuk
mengorganisasikan pengetahuan dan menggeneralisasi prinsip-prinsip.
Tujuan umum inquiry training ialah membantu siswa mengembangkan
disiplin dan menterampilkan intelektual yang diperlukan untuk dapat
mengajukan pertanyaan dan mencai jawabannya berdasarkan rasa ingin
tahunya. Suckman bermaksud membantu siswa melakukan inquiry secara
independen dengan cara disiplin. Diharapkan agar ssiwa bertanya
mengapa sesuatu terjadi, kemudian mencari atau mengumpulkan dan
memproses data secara logis, kemudian mengembangkan strategi
intelektual umum yang dapat digunakan untuk menemukan jawaban atas
pertanyaan mengapa sesuatu itu terjadi.
Inquiry training dimulai dengan menyajikan peristiwa yang mengandung
teka-teki kepada siswa. Individu yang menghadapi situasi itu akan
termotivasi untuk memecahkan teka-teki itu. Kesempatan itu dapat
dipergunakan untuk mengajarkan prsedur pengkajian yang terdisiplin.
Menurut Brunner (2005:87), siswa akan bertambah sadar akan proses
inquiry-nya dan mereka akan dapat dijiwai prsedur ilmiah secara
langsung. Seringkali orang melakukan inquiry secara intutif, padahal
menurut Suckman kita tidak dapat menganalisis dan memperbaiki cara
berpikir kecuali bila kita menyadarinya.
Penekanan Metode ini terletak pada penenaman kesadaran akan proses
inquiry bukan akan isi situasi masalah tertentu.
Pada Metode inquiry terdapat lima fase. Pada fase pertama guru
menyajikan situasi bermasalah menerangkan prosedur inquiry kepada
siswa. Formulasi peristiwa memerlukan pemikiran terhadap tertentu,
tujuan utamanya ialah agar siswa mengalami penciptaan pengetahuan
baru. Inquiry awal dapat didasarkan pada gagasan-gagasan sederhana.
Fase kedua, verifikasi suatu proses pengumpulan infromasi mengenai
peristiwa yang diikat dan dialami. Fase ketiga, eksperimentasi, siswa
mengenakan elemen baru ke dalam situasi untuk mengetahui apakah suatu
peristiwa terjadi secara berbeda. Fase keempat, guru meminta siswa
untuk merumuskan suatu penjelasan. Beberapa siswa akan mengalami
kesulitan untuk menghubungkan informasi yang telah dikumpulkan dengan
penjelasan. Fase kelima, siswa diminta untuk menganalisis pola
pelaksanaan inquiry. Mereka dapat menentukan pola
pertanyaan-pertanyaan yang paling efektif,cara-cara bertanya yang
paling produktif dan yang tidak produktif, jenis informasi yang
diperlukan dan tidak diperlukan. Fase ini esensial untuk menjadikan
proses inquiry sebagai sesuatu yang didasari dan secara sistematis
dilakukan perbaikan.
Menurut Suckman (2008:112) Metode inquiry training dapat terstruktur
secara ketat, guru mengontrol interaksi dan menerangkan prosedur
inquiry. Norma inquiry ialah terdapatnya koperasi/kerjasama dan
kebebasan intelektual. Interaksi sesama siswa perlu ditekankan.
Lingkungan intelektual terbuka bagi gagasan-gagasan yang relevan. Bagi
gagasan-gagasan yang menjadi pokok perhatian, partisipasi guru dan
siswa harus seimbang.
4. Penerapan Metode Pembelajaran Inquiry Training
Pada umumnya siswa akan lebih cepat bosan dan jenuh apabila dalam
proses belajar mengajar hanya menggunakan Metode pembelajaran ceramah.
Sehingga siswa merasa kesulitan untuk mengingat dan memahami materi
pembelajaran yang disampaikan. Bagi anak yang tingkat kecerdasannya
tinggi tentu saja tidak ada masalah, akan tetapi bagi anak yang kurang
cerdas atau cara berfikirnya lambat akan sangat kesulitan dan kurang
bisa memahami terhadap materi yang disampaikan.
Peranan Metode pembelajaan inquiry training mempunyai peran dan fungsi
yang sangat penting dalam pembelajaran yaitu dapat meningkatkan
kreatifitas siswa, mengaktifkan proses belajar mengajar, membangkitkan
motivasi siswa dalam belajar, membantu siswa dalam memahami materi
pembelajaran.
Peran dan fungsi penerapan Metode pembelajaan inquiry training dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Menarik perhatian siswa dalam meningkatkan minat belajar siswa
lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan memberikan hal yang
baru dalam pembelajaran jelas akan menarik perhatian dalam
membangkitkan minat belajar sehingga siswa lebih aktif dalam proses
belajar mengajar. Seperti penjelasan di atas yang menyebutkan bahwa
siswa diminta untuk membuat sebuah puisi dengan tema bebas dan
mempertanggung jawabkan pada siswa yang lain diharapkan dapat menarik
perhatian dan membangkitkan minat belajar siswa dalam proses belajar
mengajar.
b. Memperjelas suatu ide atau buah pikiran yang sifatnya abstrak.
Dengan penerapan Metode pembelajaan inquiry training suatu ide atau
buah pikiran tersebut akan lebih mudah dipahami, dicerna dan
dimengerti dalam meningkatkan kemampuan menulis. Hal ini dapat
dilaksanakan dengan cara siswa diminta untuk memahami isi dari sebuah
puisi yang dibuat dengan penelitian yang dilakukan oleh siswa terhadap
benda nyata sehingga sesuatu yang abstrak akan menjadi lebih konkrit.
c. Memperkuat daya ingat terhadap kemampuan menulis penerapan Metode
pembelajaran. Sesuatu yang baru dan menarik akan selalu diingat dan
dikenang. Dengan penerapan Metode pembelajaran inquiry training
dengan menerapkan strategi seperti penjelasan di atas, akan memperkuat
daya ingat terhadap kemampuan menulis.
d. Penerapan Metode pembelajaan inquiry training akan mempercepat
pemahaman terhadap konsep menulis. Dengan cara menulis puisi sesuai
dengan apa yang dilihat, dirasakan, didengar dan dilakukan yang
merupakan bukti nyata bukan lagi abstrak, sehingga siswa akan lebih
memahami dan mengerti terhadap konsep menulis puisi.
e. Penerapan Metode pembelajaan inquiry training dalam pembelajaan
menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah untuk meningkatkan
perhatian dan keterampilan siswa dan juga meningkatkan prestasi
belajar siswa. Memberikan tanggapan terhadap sebuah puisi yang
merupakan salah satu cara atau teknik dalam meningkatkan dan
mengembangkan kreativitas siswa dan secara langsung maupun tidak
langsung akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Banyak sekali metode pembelajaran yang bisa kita terapkan saat
pembelajaran berlangsung. Metode pembelajaran Inquiry Training ini
dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan tentunya dengan
kemasan dan kreatifitas guru. Sejak di populerkan sekitar tahun 2000,
Metode pembelajaran ini mulai menyebar di kalangan guru di Indonesia.
Dengan menggunakan Metode Inquiry Training maka pembelajaran
menjadi menyenangkan. Selama ini hanya guru sebagai actor di depan
kelas, dan seolah-olah gurulah sebagai satu-satunya sumber belajar.
Pembelajaran moderen memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan
Menyenangkan. Metode apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya
peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap
pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu
menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajaran harus
menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau
dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik
atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari
proses pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PERLU UNTUK DI BUKA